WHATEVER PEOPLE SAY I'M, THAT'S WHAT I'M NOT...

  • following
  • following
  • following
  • following
  • following

PERCAKAPAN KOCAK SERSAN yang TULALIT ama KOMANDANNYA

bersetting di sebuah gedung yang di pasang bom waktu.seorang prajurit berpangkat sersan bertugas untuk menjinakan bom tersebut,di pandu komandan nya dari markas besar dengan komunikasi via radio Komandan : “ kijang satu kijang satu ke kijang dua, gimana kondisi di sana ? ganti “ Sersan : “ Saya sedang didepan bom waktu yang akan meledak komandan, mohon instruksi, ganti!” Komandan : “ Tolong bersihkan area dahulu sersan ! “ Sersan : “ Maksudnya saya ngepel atau nyapu komandan ?atau ngelap ngelap lantai?mohon instruksi!! ganti “ Komandan : “ Bukan!!semprul kamu!! Kamu ambil radius berapa meter dari pusat bom, kamu bersihkan area itu dari obyek yang bisa membahayakan “ Sersan: “ Siap komandan! Laksanakan!! “ Tak lama berselang.. Sersan : “ Lapor komandan, area sudah di bersihkan, ganti!” Komandan : “ Ok, sekarang fokuskan ke bom waktu, berapa menit lagi waktu tersisa sersan ?? “ Sersan : “ Sekarang menunjukan hitungan mundur 15:00:59 komandan !!” Komandan : “ Anda hanya punya waktu 15 menit sersan !!, buka tutup bom nya, gunakan obeng !! “ Sersan : ” Kalo saya bongkar nanti garansinya batal dong komandan “ Komandan : “ Semprul Kronis !! memangnya itu elektronik pake ada segel garansinya segala, cepet bongkar !!” Sersan : “ Siap!! laksanakan !!” Sersan : “ Bom sudah terbuka komandan, disini banyak kabel , mohon instruksi !! ganti!! “ Komandan: “ Potong kabel yang paling dekat dengan kamu sersan!! Sekarang!!“ Sersan : “Siap!! laksana………pret!! “ pembicaraan terpotong Kondisi markas heboh, komandan marah marah Komandan : “ Itu prajurit darimana sih!!! Goblok di abisin sendiri!! Saya bilang potong kabel paling dekat !! kabel yang ada di bom itu!! bukan berarti kabel headset yang nempel di badan dia !!” “ Aktifkan alat komunikasi kedua, panggil dia kembali “ sahut komandan masih dengan marah marah Operator di markas mengaktifkan alat komunikasi cadangan memanggil sang prajurit di lapangan Begitu tombol pemanggil di aktifkan, terdengar dari speaker markas “ …….aza aza …aza aza…” lagu bang rhoma menginterupsi kegiatan militer di markas itu sepuluh detik akhirnya di angkat.. Sersan : “ Panggilan di copy komandan!!siap terima instruksi “ Komandan: “ Itu tadi kamu apa apaan, kenapa saya panggil kamu ada musik seperti itu hah!!!” Sersan: “ Itu Ring back Tone namanya komandan, di negara saya sudah biasa “ Komandan: “ ini jalur militer !! jangan main main, kamu sedang didepan bom yang bisa membunuh kamu!! Mengerti kamu !! Edhan!!“ Sersan : “ Siap!! Dimengerti !!” Di markas, komandan di bantu ajudannya membuka buku mencari data tentang bom jenis apa yang di hadapi prajuritnya di lapangan.Sesekali mereka berdiskusi. Komandan: “ Sersan!! tolong dicari dari mana asalnya yang tadi !! saya tunggu datanya !!” Sersan: “ Dari Tasikmalaya asalnya komandan!!! Dari daerah Sodong, Negla, Taraju *nama nama daerah di tasik, makanya disebut grup SONETA komandan, datanya saya tidak ada, Cuma gambar vokalis nya saja yang saya punya, ada di dompet saya komandan !!” Komandan : “ ARRRRGGGHHH!!! *bunyi seperti orang memakan benda keras. Bego!! Data bom yang saya minta!!!! “ Sersan : “ Oh maaf komandan, bom sudah saya lokalisir hanya tersisa 4 kabel !! mohon instruksi !! “ Komandan: “ Potong kabel hijau !!! “ Sersan : “ Siap laksanakan!!! ” Komandan: “ Seharusnya sekarang bom sudah mati!! Laporkan situasi terakhir sersan!!” Sersan: “ Bom masih nyala komandan, malah makin cepet !! “ Komandan : “ Kamu tadi potong kabel warna apa!! “ Sersan: “ Hijau komandan !!” Komandan : “ Mestinya bom nya sudah mati !!! ambil tindakan cepat !! “ Sersan: “ Saya gak bawa koin komandan !!” Komandan: “ Koin untuk apa??!! “ Sersan : “ kalo gagal kan bisa ngulang lagi dari awal “ Komandan :” Semprul!! Itu bom waktu bukan mesin ding dong “ Sersan: “ Tapi sumpah saya tadi potong yang hijau komandan!!, komandan salah baca kali “ Komandan: “ Monyong!! Udah salah malah ngeyel, memang sekarang sisa kabel warna apa?? “ Sersan: “ Merah, Hitam, Hijau, Kuning !! “ Komandan: “ Lha koq kabel hijaunya ada dua!!! “ Sersan:” Lha memang dua komandan, yang satu ijo daun yang satu ijo langit “ Komandan:” Ngaco kamu!! Langit itu biru bukan ijo!!” Sersan: “ Langit itu ijo komandan !!!sekali kali komandan maen ke kampung saya!! “ Komandan: “ Moncrot!! Brati tadi kamu potong yang ‘ijo langit’???? “ Sersan : “ Iya komandan !!! siap menunggu instruksi!! ” Komandan di markas Cuma geleng geleng kepala, bisik bisik ke ajudannya “bilangin ke personalia, nanti lagi kalo mo rekrut anggota tanya dulu di tempat nya warna langit nya apa “ Sementara dari alat komunikasi sang prajurit memanggil manggil Sersan: “ Kondisi Darurat komandan!! Bom siap meledak!! Mohon instruksi!!” Komandan: “ Ok, operasi saya ambil alih, kamu ikuti semua instruksi dan ucapan saya !!” Sersan: “ Siap Laksanakan !!” Komandan :” Ina…!! “ Sersan :” Ina ..!!” Komandan: “ Lilahi !!” Sersan: “ Lilahi !!” Komandan: “ Wa ina Ilaihi ..!! “ Sersan : “ Wa ina ilaihi ?? “ Komandan : “ Roji’un…!!” Sersan : ??%%??**#

Keep Calm: Edisi Mahasiswa Tingkat Akhir

287

fuckyeahmahasiswa:

dari weirdoningrum

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 11 months ago from fuckyeahmahasiswa

Hidup Mahasiswa!: alasan mahasiswa terlalu lama mengerjakan TA alias tugas akhir.

99

fuckyeahmahasiswa:

menurut hasil perhitungan gue yang cukup dapat dikatakan VALID.

mari kita asumsikan satu paragraf diatas membutuhkan waktu sebanyak 2,5 jam, dan bila diasumsikan satu halaman kertas memiliki 4 paragraf seperti diatas, maka satu halaman kertas membutuhkan 10 jam untuk diseleseikan. Lalu,…

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa

UWAIS AL-QARNI Terkenal Di Langit, Tak Terkenal di Bumi

Biografi 

Dia adalah Uwais bin ‘Amir bin Juz’ bin Malik bin Amru bin Mus’adah bin Amru bin Sa’ad bin Ashwan bin Qorn bin Rodman bin Najiyah bin Murod Al Murodi. (Terkenal dengan sebutan Uwais Al Qorni yang zuhud , ini sebagaimana dinasabkan oleh Ibnu Al kalbi didalam kitab Usudul Ghobah 1/95, hadits yang dikelurakan oleh Ibnu Manduh dan Abu Nu’aim)

Dia seorang yang hidup dimasa Nabi   akan tetapi dia tidak pernah bertemu dengan Nabi , dan sabda Nabi ia adalah yang terbaik diantara para Tabi’in. (Mukhtashor Tarikh Dimaskus2/137)

Dia adalah pemuda yang bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan , tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.


Keutamaan Beliau

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.  Ia tak dikenal banyak orang, miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata: “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Menjadi yatim sejak kecil


Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad n. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad n secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Keinginannya untuk bertemu dengan kekasih Allah

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau n, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi.

Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.


Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi n, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya.

Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi n dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.


Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a, memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah n bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau n, memandang kepada sayyidina Ali karamallahu wajhahu. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi n wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi n tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali karamallahu wajhahu. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. 

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar  dan sayyidina Ali  mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar  dan sayyidina Ali  memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat.

Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi n. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan: “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali karamallahu wajhahu memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
(Mukhtashor Tarikh Dimaskus 2/135)

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami!” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya. “Ya,” jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.


Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais

Meninggalnya Uwais al-Qorni banyak perbedaan tentang periwayatannya, ada yang berpendapat bahwa ia meninggal pada perang Shiffin  (Al kamil fit Tarikh 2/78).

Ada juga yang mengatakan di Demaskus, kemudian di Azerbeijan ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salamah (Al kamil fit Tarikh 2/78)  dan kematiannya telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.

Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya: “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Dosen oh dosen...

171

fuckyeahmahasiswa:

Kalo mahasiswa sakit hati kalo dosennya nggak dateng, dosen juga sakit hati kalo mahasiswanya suka bolos.

Kalo mahasiswa dongkol dosennya dateng telat, dosen juga dongkol kalo mahasiswanya dateng telat.

Kalo mahasiswa ngomel karena diusir karena telat, dosen juga bisa ngomel kalau udah…

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa
194

fuckyeahmahasiswa:

amiiiiiiinnnnnn………. - dari adamardi

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa
227

fuckyeahmahasiswa:

DESKTOP MAHASISWA TA - Gimana caranya mau fokus kalo lebih banyak godaannya gini??

dari elvizahro

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa

DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN

240

fuckyeahmahasiswa:

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa
172

fuckyeahmahasiswa:

MAHASISWA SOK PINTER - dari @benakribo

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa
53

fuckyeahmahasiswa:

DOSEN TIDAK SELALU DATANG SESUAI PERKIRAANMU.

dari indrabagoes

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Reblogged 1 year ago from fuckyeahmahasiswa
Theme By Idraki and Powered by Tumblr 2010.
Typerwriter and Paper Image Courtesy of Google. Icon Credited to Webdesignerdepot